Selasa, 11 November 2008

UANG APA SAJA
Oleh: Muhdlor & Hasan

Masih ingat kalimat di sebuah amplop yang setiap bulan diterima para ustadz dan ustadzah di Pabelan? Tulisan dalam amplop itu sungguh ‘menyimpang’ dari kebiasan di luar sana “uang apa saja”. Kenapa tidak ditulis uang saku, uang jajan, uang sabun, uang transport dan lain-lain. Persoalan bahasa ungkap ini kelihatannya sepele, namun kalau kita coba kaji sedikit saja, kita akan berhadapan dengan cakrawala yang amat luas membentang indah dihadapan kita. Karena bahasa ungkap ini sangat menawarkan kemerdekaan yang luar biasa. Ah… masa iya? Kalau tak percaya, coba luangkan sedikit waktu untuk merenungkannya
Tulisan “uang apa saja” yang sering kita sebut “madza faqot” merupakan sebuah AKAD tersendiri dari yang memberi. Artinya dia (sang pemberi) itu telah memberikan sebuah kebebasan kepada si penerima untuk memperlakukan uang tersebut sesuai keinginan dan kebutuhan penerima. Artinya juga bahwa sang pemberi telah percaya betul kepada si penerima dalam hal memperlakukan uang tersebut. Maka dia tidak merasa harus ngatur lebih detail mengenai peruntukkan uang tersebut. Dia telah menyerahkan dan mempercayakan kepada si penerima untuk menggunakan uang tersebut secara MERDEKA. Berbeda dengan istilah uang jajan, uang sabun, uang makan dan lain-lain. Uang jajan umpamanya, menurut AKADnya harus dijajankan, uang sabun harus dibelikan sabun, dan seterusnya. Akan terjadi pelanggaran, penyimpangan atau setidaknya salah prosedur kalau ternyata uang tersebut ditabung atau dipinjamkan teman.
Seandainya hal itu ditarik pada hal yang lebih besar menjadi seperti ini: Seorang pimpinan proyek akan disalahkan Bawasda, BPKP atau auditor kalau dia menggunakan anggaran tidak seperti peruntukan dalam mata anggarannya, walaupun pimpinan proyek tersebut menggunakan anggarannya untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, lebih penting dan lebih krusial. Umpanya dalam sebuah Rencana Anggaran Biaya (RAB) ditulis “untuk belanja ATK”, maka tidak boleh tidak dia harus membelanjakannya pada yang bernama ATK. Tidak boleh untuk kendaraan. Jika ternyata anggaran tersebut dibelikan kendaraan juga, siap-siaplah didatangi penyidik KPK.
Urusan “uang apa saja” dalam amplop yang dulu setiap bulan kita tunggu, sebenarnya tidak seberesiko itu. Hanya saja ada hal yang dapat kita ambil pelajaran istilah guru kita ini, yakni: Kalau anda sedang baik hati, lalu memberi sesuatu, sehelai atau segepok uang kepada seseorang, lakukanlah dengan ikhlas. Tidak lantas mengatur dan intervensi terlalu jauh terhadap orang yang anda beri. Berikan juga sebuah kemerdekaan padanya. Jadikanlah seseorang yang anda beri itu tetap terhormat, Jangan pula diomong-omong pada orang lain. Karena hal itu akan membuat dia menjadi rendah
Ingat: “Besar jumlah pemberian memang penting, tapi kearifan anda memberi itu jauh lebih penting”. Oke?
Barokallahu lii wa lakum

Senin, 10 November 2008

Copy darat yok....

Panca jiwa pondok yang menjadi motto santri, mulanya aku tidak mengerti, apa sesungguhnya maksud yang tersimpan dalam kalimat itu. Hampir tiap hari kami baca, kami senandungkan, kami ikrarkan dalam setiap kegiatan pondok kala itu. Tapi sejujurnya, aku belum bisa menarik garis pengertian secara nyata kala itu, bagaimana kami harus mengaplikasikan secara riil dan konkrit, aku tidak mampu. Namun sekarang, waktu yang demikian panjang terlewati, bukannya mengikis rasa 'ukhuwah islamiyah' yg kala itu belum sempat kufahami maknanya, tapi justru menjadi sebuah energi baru yang terus memberi kekuatan dalam pemahaman ajaran kyai. Rentang waktu yang demikian panjang, tidak menyamarkan garis ukhuwah dengan kawan-kawan jauh, tapi justru membuat semakin tebal coretan garis itu terlukis. Jauh dalam jarak, namun demikian dekat dan melekat dalam rasa. Ah... barangkali aku saja yang terlalu sentimentil .....entahlah...tapi, jujur...itulah yang kurasa.
Dorongan rasa untuk datang ke pondok, bersua sahabat-sahabat, adalah sebuah keputusan yang terus dan terus kusyukuri, Tuhan telah menggerakkan langkahku, ajaran para guru yang dulu belum sempat kumaknai, namun sekarang telah kutemukan anak-anak kunci yang dulu belum sempat kudapat,kini telah kutemukan serta aku bisa masuk dalam setiap bilik itu, dan merasakan kenyamanan di dalamnya....
Kawan-kawan, (tanpa mengurangi rasa kedekatan bagi yang belum bisa hadir) kalian memang luar biasa... aku tak memiliki simpanan kata yang cukup apik tuk ungkapkan semua gejolak rasaku, haru, bahagia, teduh, nyaman, ah...entahlh, kata apalagi yang sesuai untuk mengungkapkan rasa sayangku pada kalian....
Aku bisa menghabiskan waktu kalian tuk mengungkakan emosi rasaku, maka harus kuakhiri tulisan ini dengan sebuah usulan dari kawan-kawan yang kemarin sempat datang ke pondok, hasil dari 'informal meeting' dengan Jularso, Syarifah, Dindin, Cecep, Alfiah, Zumroti, dkk bahwa untuk pertemuan rutin angkatan 80, rencananya akan kita adakan setiap tahun, dengan satu pertimbangan bahwa jika diadakan 5 atau 10 tahun kedepan, kita sudah keburu renta, dan kata bung Jularso, beliau nggak mau kalau harus nganterin nenek-nenek jalan-jalan keliling Solo, nanti repot. Sekarang sih masih wangi-wangi, tapi nanti 10 tahun kedepan yang tercium bukan aroma parfum, tapi minyak kayu putih dan balsem, kata bung Jos begitu.... (capek dehhh)
Berangkat dari pemikiran itulah, akhirnya kemarin kita sepakat untuk merencanakan temu kangen bagi laskar sahara80 tiap tahun...
Gimana kawan-kawan ?????
Kita tunggu usulan, komentar dan jawabannya...

Salam hangat
Z.Trihastuti

Launching Buku & Munas IKPP

Launching buku Kyai Hammam dan Pesantren Pabelan dan Munas IKPP 8-9 Nopember 2008 dihadiri pula oleh alumni Sahara80. Berikut nama-nama yang hadir (sebatas yang aku ingat lho):
  1. Cecep Suheli
  2. Zumroti Trihastuti
  3. Dindin Solahudin
  4. M. Miran QR
  5. Ilham M. Noor
  6. Fahimah
  7. Syarifah Azma
  8. Jularso Raju
  9. Nafsiyah
  10. Ma'mun Hanafiah
  11. Alfiyah
  12. Ahmad "Asok" Ibrahim
  13. M. Muhdor
  14. M. Hasan
  15. Nurul Huda
  16. Nurkholis Fahmi
  17. Syukron
Bagi siapapun yang hadir dan belum tercantum di sini, silahkan berunjuk rasa..he..he.. Ntar kita susulkan.
Maaf aku belum dapet kiriman foto-foto acara tersebut. Foto-foto itu ada di Fahimah. Katanya akan dikirim ke Mbak Zumroti untuk segera diposting di Sahara80. Bersabar aja ya.
Acara launching benar-benar seru dan mengharukan. Abis Menteri Perhubungan bercerita panjang ihwal kenangannya sebagai santri kalong Pak Kyai Gurubesar kita. Apalagi tatkala acara dipungkas dengan do'a oleh guru Pak Hammam yang berdo'a sambil berlinang air mata.
Anggota Sahara80 juga dapet kesempatan emas kangen-kangenan di depan gedung shigor, di kantin, dan sambil jalan-jalan thawat keliling pesantren hingga ke Muntilan.
Dalam percakapan itu terungkap bahwa temen-temen aktif juga membaca blog Sahara80, cuma mereka belum sempat memberikan kontribusi agar yang muncul jangan itu-itu lagi (Zumroti, Dindin, dan Cecep). Maka, kuulangi di sini undangan buat temen-temen untuk meramaikan blog ini ya, biar semarak gitu. Many thanks.


Salam Hanget.
dindin

Jumat, 17 Oktober 2008


NASIHAT KIYAI

oleh : cecep suheli
Anak -anakku
sebelum kalian memasuki gerbangku
gantungkanlah dulu pakaianmu itu di dinding kamarmu
di sini akan kubuatkan baju baru
namanya baju Keikhlasan
dengan model kesederhanaan
dijahit dengan tanganku sendiri secara berdikari
benangnya Ukhuwah-diniyah
dan bahannya dari sutra Kebebasan

Aku tahu di luar sana
ada banyak pakain yang terpaksa harus kalian pilih
tapi jangan kalian campakkan sehelai pun dari baju yang kujahit ber abad-abad ini
Karna Inilah warisan dariku yang tiada akan habis
walau kau wariskan kembali kepada anak cucumu

Anak-anakku
bukankah dulu pernah kunasihatkan pada kalian
bahwa kelahiran, kehidupan dan kematian adalah biasa
setiap yang lahir dan hidup akan berhadapan dengan kematian
dan siapapun tak akan mati sebelum dia lahir dan hidup terlebih dahulu.
Jadi, jika kalian rindu aku
tak perlu dengan sedu sedan dan cucuran air mata
karna airmata hanya akan menggenangi kuburku.
pandanglah kembali baju itu, lalu pakailah
maka rindumu akan terobati

Tak perlu pula kalian taburkan bunga – bunga di kuburku
kecuali bunga yang selama tujuh tahun kalian tanam di hatimu
bunga yang siang malam aku sering menyirami dan mengawasinya
bunga yang harumnya tidak hanya membumbung ke langit dan menjadi nafas para malaikat
tapi juga menyentuh tanah tempat kalian berkiprah

Anak-anakku,
dengarlahlah wasiatku untuk kalian:
aku tidak bangga dengan rumah dan mobil mewahmu
pangkat dan kesarjanaanmu
Kebanggaanku hanyalah apabila kalian
berbudi tinggi,
berbadan sehat
berpengetahuan luas
dan berpikiran bebas
yang itu semua hanya bisa dicapai apabila memakai baju yang telah kuwariskan pada kalian

Anak-anakku
Sudah lama kupersiapkan tempat-tempat dimana kalian harus mengembara:
Mulai dari sungaiku tempat kalian bersuci
telusurilah rumah-rumah penduduk untuk silaturrahmi
lalu masukilah perpustakaan untuk mengisi otakmu
berperanglah di halaman perpustakaan itu dengan ilmu yang kalian punya
dan begitu sampai di serambi masjid, segeralah masuk dan bersujud untuk mengisi hatimu
karna sejengkal lagi kalian akan sampai di kuburan
tempat di mana aku sedang santai menikmati hasil pengembaraanku,
mereguk minuman tape ketan, air susu dan sesekali memetik ranumnya anggur di taman ini.

Bandung, 17 Oktober 2008
· Tulisan ini khusus untuk di muat di Blog Sahara dan blog angera.
· Kalau tulisan ini disebut puisi, maka inilah puisi Imajiner hasil pengembaraaan ke masa silam. semoga mengingatkan kita untuk sesekali bercermin dan milhat baju yang sedang kita pakai. Mohon maaf juga apabila terdapat kalimat atau kata yang secara dhohir tidak berkenan bagi anak-anak KH. Hamam yang lain yang sudah tersebar di mana-mana.

*)Dongeng Kiyai:
MATI BERKALI-KALI
Oleh: Cecep Suhaeli*

Ada seorang lelaki yang bosan menjadi lelaki. Dalam pikiranya jadi lelaki itu ternyata melelahkan, ia harus bertanggung jawab untuk berbagai persoalan, mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya “oh... kalau hidup harus begini terus.... MATI AKU..... Andai aku perempuan, tentu tak akan selelah ini”. ia pikir perempuan jauh lebih santai, enak dan tidak harus banting tulang mencari nafkah. Lalu berdoalah ia untuk dijadikan perempuan. Doa dikabul, jadilah ia perempuan.
“nah... begini kan enak....”
Waktu terus berjalan dari mulai hitungan detik, jam, hari,minggu, bulan, tahun hingga sampailah pada kenyataan bahwa ia harus menikah, melayani suami, lalu hamil selama sembilan bulan, melahirkan yang menyakitkan, punya anak. Selanjutnya tidak hanya mengurus suami, ia juga harus menyusui anaknya, merawat dan menjaganya, memasak, beres-beres rumah dan seterusnya akhirnya sampailah pada titik kebosanan.
Sambil matanya menatap langit ia menggerutu dalam hati “ aduh...MATI AKU.... jadi perempuan repot juga ya..... sebuah rutinitas yang membosankan”.
Tiba-tiba matanya melihat sekelompok awan yang berbaris merdeka di angkasa. “Wahai awan...kalian sungguh beruntung, berjalan tanpa beban, tertawa dan saling bercengkrama. andai saja aku bagian dari kalian....ck...ck...ck...tentu menyenangkan. Lalu berdoalah ia untuk dijadikan segumpal awan. Doa dikabul jadilah awan.
Kesempatan menjadi awan tidak ia sia-siakan sedetik pun. mulailah ia terbang jauh, menyatu dengan awan lain. “Woi....asiiiik......cihui....oi...di sini aku melihat hamparan bumi, lautan dan indahnya pegunungan semuanya menyenangkan...Cihuiiii”.
Lagi asik-asiknya melayang sesuai arah angin, tiba-tiba suhu udara berubah. Awan menggigil, membeku, mencair, jadilah hujan yang kemudian menerobos udara dan jatuh ke bumi menimpa batu besar di sebuah kali. “ Ala mak...sakit!!...MATI AKU....ternyata jadi awan tidak selamanya damai, terbang juga tergantung pada angin tidak sesuai keinginan. Dan ini....? sungguh peristiwa yang menyakitkan”. Batu disampingnya yang semula terdiam anggun di tepi kali tak kuat menahan tawa.
Melihat batu yang sepertinya mengulum tawa, sang awan yang berubah menjadi hujan itu tiba-tiba tertarik untuk menjadi batu yang diam di tempat dan tak mungkin jatuh. Kalaupun ada benda lain yang membenturnya, pasti yang merasa sakit benda itu, bukan sang batu. Bagaimana mungkin benda yang kuat, keras dan gagah itu merasakan sakit hanya akibat benturan kecil. “Tuhan jadikanlah aku batu, jadikanlah batu, jadikanlah batu...amin...” Doa dikabul jadilah batu yang diam di tepi kali tanpa aktifitas yang melelahkan. “Terimakasih Tuhan....sudahlah aku mau istirahat saja”.
Ternyata diam juga melelahkan dan membosankan, apalagi ketika terik matahari mulai menyengat tubuh, sebagai batu ia kaku tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa menghindar dan berjalan ke tempat yang lebih teduh. “ah....MATI AKU....kalau begini terus. Ini? apa ini yang hinggap di mukaku..?! aduh....bau sekali...huk hk..MATI AKU” Rupanya seekor anjing telah menjatuhkan kotoran diatas batu itu. “Dasar anjing gak punya aturan!!”.
Tapi di balik umpatannya itu, dalam hati ia tertarik juga dengan sebuah kehidupan tanpa aturan seperti seekor anjing yang kapan saja, dimana saja bisa makan apa saja, bisa berbuat apa saja; kencing, berak, tidur dan berhubungan dengan lawan jenis sekalipun. Berlari dan berjalan keluar masuk perkampungan “Wow...sungguh kemerdekaan yang merdeka...”
Tanpa harus menunggu malam ia pun berdo’a untuk kesekian kalinya..... singkat cerita, Doa dikabul jadilah seekor anjing jantan. Mulai ia menggonggong dan melolong-long untuk mencoba pita suaranya. Kaki kanan belakang diangkatnya....cerrr.....ternya bisa juga ia kencing gaya baru. Lalu untuk mengetest selera makannya ia berjalan ke tumpukan sampah. Wah...apa saja gurih, enak dan nikmat termasuk kotoran manusia, heh..mak nyuuuuss.
Mulailah ia dengan kehidupan baru sebagai anjing jantan. Berjalan di perkebunan dan di hutan tanpa ketakutan. Menyusuri lorong-lorong kampung sambil mencari sisa makanan. Setelah menempuh jarak perjalanan yang cukup panjang, tiba-tiba ia dikagetan dengan sekolompok orang yang sebagian memegang tongkat dan lainnya memegang batu. Rupanya si anjing jantan telah memasuki komplek pesantren. Para santri yang menilainya najis bermaksud mengusirnya dengan tongkat dan batu di tangan. Sementara anjing yang sebelumnya pernah bersentuhan sejarah dengan batu, kali ini merasa ketakutan. Larilah si Anjing yang kemudian dikejar dan dilempari oleh sekolompok santri. Anjing berlari sampai jauh keluar pesantren, napasnya tersengal-sengal, lidah menjuntai ke luar, ia merasakan capek dan takut yang luar biasa. “hah,,,hah....MATI AKU dari pada hidup penuh resiko menjadi anjing, lebih baik... hah... hah...aku ...jadi santri saja”.
Akhir cerita, ia sekarang menjadi santri di sebuah pesantren setelah semalaman mohon ampun dan berdoa.
Nah, anak-anak.... dalam hidup itu pasti ada tantangan, tidak boleh dihindari. Karena dimana pun tantangan itu akan selalu ada. Manusia tidak bisa bebas dari disiplin dan aturan. kalau ingin bebas ya..jangan di sini pergi saja ke hutan. Walau pun untuk hidup di hutan tetap ada aturannya. Maka jangan jadi pengecut!! jadilah pemberani yang disiplin dan siap menghadapi tantangan. Ingat “Pemberani matinya cuma sekali, sedang pengecut matinya berkali-kal”i. Begitula sang Kiyai menutup Khotbahnya.
Bandung, 18 Oktober 2008saya hanya menceritakan kembali apa yang saya dengar dari Khutbah sang Guru Besar. jadi Ini bukan karangan saya. tentu kurang original bahkan kurang seru.

Jumat, 10 Oktober 2008

Gurubesarku

Medio 1960-an, Pabelan bukan apa-apa. Cuma sebuah kampung kecil yang luput dari perhatian. Tak banyak yang mengenalnya. Sekadar kampung representasi kesederhanaan, bila bukan keterbelakangan.
Dalam pada itu, tampillah seorang putera daerah potensial. Seorang belia jebolan Gontor. Sesuai namanya, Hammam, ia seorang pegiat penuh semangat. Pemantik kebangkitan kampung Pabelan. Berawal dari kegiatan "nyeleneh," ia merintis sebuah pesantren "aneh" bagi kampungnya. Tak butuh waktu lama, pesantren Pabelan menjelma menjadi sebuah pesantren besar. Dikenal secara nasional. Memikat seorang sutradara untuk menjadikannya sebagai lokasi film Al-Kautsar.
Booming santri terjadi sejak awal 1970-an. Klimaksnya terjadi awal 1980-an. Antiklimaksnya awal 1990-an. Mungkin dekade 2000-an ini lagi mengalami revitalisasi.
Dalam perjalanan Pabelan yang dinamis semacam itu, sosok kuncinya tak lain adalah Syekh Hammam. Bagiku ia adalah seorang Guru Besar. Alias Professor. Alias Syekh. Ya, ia seorang guru besar nonformal yang mengundang rasa kagum, hormat, dan segan. I am grateful to him. My sincere thanks go to him.
Sebagai guru besar, ia telah melahirkan sejumlah murid besar. Mas Qomar, Mas Bahtiar, Mas Jamhari, Mas Hendro, Mas Logika, dan Mas AZ, untuk menyebut beberapa contoh saja. Mereka tersebar secara nasional. Mereka besar atas jasa guru besar ini.
Saking besarnya sebagai guru, ia nyaris sempurna di mataku. Meski terdengar kabar miring tentangnya, aku tak sanggup mengkritiknya. Aku merasa terlalu kerdil untuk mengkritiknya. Untuk soal kritik ini, kuserahkan saja pada murid-murid besarnya yang kini telah menjadi guru besar pula.
Aku hanya bisa berdo'a: Allaahummaghfir lahuu warhamhu wa'aafihii wa'fu 'anhu wa akrim nuzulahu wa wassi' madkhalahu wagsilhu bilmaa-i wassalji walbarad. Aamiin yaa rabbal 'aalmiin.

Dindin
Bandung

Senin, 08 September 2008

Relaksasi Jiwa


Sejenak mari kita merenung, kita tundukkan kepala dengan penuh kerendahan hati, kita rehatkan semua sendi dari raga kita akan aktifitas duniawi, Untuk sejenak bersama-sama tafakkur dan merenungi salah satu ayat Allah, diantara ribuan tanda2 kebesaran Allah yang ada. Agar kita semakin menyadari keberadaan diri kita yang bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya dibanding kebesaranNya.
Untaian kata ini, sebetulnya adalah sebuah nasehat untuk diri saya, suatu usaha intropeksi dan peringatan yang begitu saya sadari, berlumur banyak dosa dan kekhilafan. Semoga perenungan ini menjadi sebuah relaksasi yang akan membuat sebuah kesadaran dan langkah untuk menuju kebaikan, amin.

Tiada kata puja, patut tercurah, kecuali pada Dzat sang pemilik segala. Dzat yang memimpin seluruh jiwa tunduk dalam aturanNYA. Zat yang merajai alam semesta, dzat yang mampu menggerakkan angin berdesir sepoi memikat, atau mengubahnya menjadi garang menyapu seluruh isi bumi yang ada dan melumatkan menjadi serpih tak bersisa. Dzat dimana seluruh jiwa menghamba, tunduk patuh pada keagnganNYA, kecuali bagi mereka yang ingkar dan lalai dari mana dia berasal dan kemana pula kelak jiwa berpulang.

Yang selalu pula harus kita ingat pada setiap saat kata berucap, adalah sholawat, semoga senantiasa mengalir deras tercurah, pada junjungan kita, Nabi pembawa berita gembira, pemimpin berhati lembut dan berakhlaq qur’any. Penerang dalam gelap nan pekat, pemilik segala syafaat, pada hari dimana tak ada lagi pertolongan kecuali Allah dan RasulNYA semata, yaitu baginda Nabi agung Muhammad S.a.w


Begitu rapinya Allah mengatur waktu bagi kita, alangkah indahnya hidup ini dalam perhitungan Allah. Setiap hari rutin 24 jam. Sejak terbukanya mata setelah sejenak kita dimatikan diwaktu malam. Masa berlalu begitu cepat, terlalu banyak pula yang ingin kita kejar tanpa disadari, banyak pula yang terabaikan.
Saya, atau mungkin kita, sering terlena dibuai oleh banyaknya tawaran kehidupan yang begitu indah menawan.
Dalam kesombongan saya sebagai manusia, saya sering lalai dan mengabaikan akan datangnya suatu masa. Yaitu masa dimana akan datang ‘tamu’ yang hadirnya tak pernah mengetuk pintu, atau menyampaikan dahulu khabar kedatangannya. Tamu yang tak pernah memilih siapa-siapa dahulu yang akan dikunjunginya. Tamu yang mampu memutus jalan kehidupan yang penuh kerlap-kerlip gemerlap, mendadak gelap, sepi dan mencekam. Tamu yang bisa mengubah tawa ceria menjadi tangis pilu menyayat kalbu Dan tamu itu tak lain adalah malaikat Izroil, yang didelegasikan Allah untuk mengakhiri kontrak hidup kita didunia. Dengan perintah Allah, malaikat maut bisa tamatkan cita-cita manusia yang memiliki sejuta impian yang hebat, menjadi kandas tak berbekas hanya dengan maut. Maut pula yang akan menukar manusia dari dunia indahnya, penuh kawan setia, pembantu dan pegawai yang berdedikasi tinggi padanya, menuju ruang sempit, sunyi, gelap dan menakutkan dan semua meninggalkannya sendiri. Dalam penantian penuh cemas akan datangnya munkar dan nakir menjumpai dan menanyakan seluruh amalan.
Oleh karenanya, sebelum kita terlupa, pada hari yang pasti datangnya, juga tamu yang tak bisa kita tolak kehadirannya yaitu ‘maut’ maka sebelum nyawa berakhir dipenghujung kehidupan, marilah kita perbaiki diri.

- Sekiranya kita merasa diri ini jauh dari Allah, mari kita dekati, karena Allah akan membalasnya dengan berlari andai kita hanya mampu berjalan kearah NYA.
- Sekiranya kita merasa diri ini lalai dari Allah, mari kita mulai ingat, karena dengan mengingatlah hati menjadi tenang dan damai, bila kita selalu dirundung gundah dan gulana.
- Sekiranya diri kita merasa kotor dengan dosa dan kekhilafan, mari kita bertaubat, kita basuh dan sucikan diri dengan amalan-amalan kebaikan.
Jangan biarkan Izroil datang mendahului kita yang baru memiliki keinginan, sementara maut datang lebih awal sebelum kita sempat mewujudkannya. Karena tidak ada pertobatan setelah ajal menjelang, segalanya terputus tak bersisa kecuali 3 perkara yang kita pernah punya, amal/sodaqoh kita, ilmu yang bermanfaat yang diamalkannya serta doa anak sholeh kita.


Barangkali waktu kita tidak banyak, walau kita harus optimis memohon pada sang pemilik jiwa, Allah azza wajalla agar kesempatan kita didunia ini ditambah, usia kita dipanjangkan, sehingga kita bisa mengukirnya dengan pahatan-pahatan amal saleh dan kebaikan.

Kesempatan yang ada ini, mari kita gunakan untuk melakukan upaya penyembuhan manakala hati kita ada yang sakit.
Sebagaimana kita selalu mengupayakan kesembuhan, saat fisik kita mengalamai gangguan penyakit. Kemana pun tempat kita datangi, berapa banyak uang keluar, kita tak peduli, demi obat dan kesembuhan diri. Padahal penyakit fisik hanya memberi efek dan pengaruh pada orang itu saja atau 1 orang saja, atau kalaupun menular hanya pada segelintir orang. Sementara penyakit hati, begitu mudah menular dan menjalar bagai endemi, yang bisa melumpuhkan seluruh sendi-sendi kehidupan, baik keluarga, masyarakat bahkan bangsa. Ketaatan pada Allah ta’ala merupakan satu-satunya tindakan pencegahan, untuk menjaga kesehatan hati kita, insyaallah.

Mari kita persembahkan sisa umur dan hidup kita untuk segala yang terbaik menurut Allah. Sedang untuk itu hanya butuh satu tekad dan sejumlah sikap istiqomah. Sebab intisari dari kedua hal itu akan membuahkan hasil yang terbaik untuk dunia dan akhira..


Kematian adalah sebuah kenyataan yang tak seorangpun bisa mengelaknya atau menghalangi datangnya, serta tak ada cara apapun untuk menghindar dan melewatinya.
Karena dalam firmanNYA dalam surat Al-anbiyaa 34-35 Allah tegas mengatakan :
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad) maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada KAMI lah kamu dikembalikan”

Tak seorangpun tahu, dimanapun tempat kembalinya yang abadi. Adakah syurga nan elok mempesona atau neraka yang panasnya tak ada perumpamaan yang bisa untuk menyamakannya.
Hidup didunia ini, sangat fana dan sementara, maka tidak semestinya kita pertaruhkan seluruh jiwa raga kita untuk mereguk kesenangannya, sebab pasti segalanya akan berakhir.
Ya Allah,
Yang maha pengampun, kami datang padamu dengan setulus permohonan dan sesungguh-sungguhnya permintaan, kami ingin hidup kami berubah, gantikan segala keburukan menjadi kebaikan dalam pandanganMU.

Ya Allah,
Panjangkan umur kami dengan kemanfaatan, dan jadikan jalan yang kami lalui adalah jalan jihad penuh ridloMU,

Ya Allah, ampuni ibu, bapak kami atas segala dosa-dosa kami dan selamatkan dari panasnya api neraka dan sayangi keduanya, sebagaimana keduanya menyayangi kami disaat kami belia.

Ya Allah, bila tiba saatnya kau sudahi kesempatan kami menatap dunia dan kehidupan, ambilah nyawa kami dengan khusnul khotimah.

Ya Allah,
Terimalah munajat kami, walau kami penuh dosa tak berbilang, namun pada siapa kami meminta ampunan, kecuali kau zat yang maha menerima taubat,

Rabbanaa laa tujigh quluubanaa ba’da id hadaitanaa wahamilnaa min ladunka rahmatan.

Maaf atas segala khilaf, dan terpelesetnya lidah, semata apa yang saya sampaikan adalah sebuah koreksi diri, peringatan diri, semoga langkah kedepan jauh lebih indah dimata ALLAH, amin.

(tulisan ini, disampaikan dalam rangka kajian pada Ramadhan 1429 H, didepan komunitas dimana penulis bekerja)

Al-Faqiir
Z.Trihastuti

Jumat, 05 September 2008



Ya Allah,
Ketika seseorang tersesat ditengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya dan para khalifah bingung menentukkan arah perjalanannya, mereka akan menyeru, YA ALLAH..

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru, YA ALLAH....

Ketika musibah menimpa, bencana melanda dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa kan selalu berseru, YA ALLLAH ....

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang akan mendesah, YA ALLAH...

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan serasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru, YA ALLAH ....

Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban kehidupan yang kita pikul, menyerulah, YA ALLAH...

Senin, 28 Juli 2008

*)SEBAIT SAJAK TENTANG ACEH
Oleh; Cecep Suhaeli

Aceh, dulu engkau Serambi Makkah
Hilang Makkah
tinggallah Serambi
hilang ‘Bi” jadilah SERAM.
Sampai awak tak berani pulang

Sajak ini entah karya siapa, karena tidak kutemukan di berbagai Antologi puisi, Koran ataupun Majalah. Aku mendengarnya delapan belas tahun silam dari seorang kepala desa Pabelan, Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Kebetulan kepala desa ini adalah Putra asli daerah Aceh. Ia seorang mantan Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi terkenal di Bandung yang tak sempat jadi sarjana, karena lebih tertarik melakukan pengembangan Teknologi Tepat Guna bersama masyarakat. Ia lebih suka menancapkan bendera sederhana di tengah masyarakat, daripada harus mengecatnya terus menerus, memberi warna-warni, mencucinya berkali-kali, dan ketika saatnya ditancapkan, masyarakat belum tentu menerimanya, bahkan bisa saja mereka tumbangkan rame-rame, mereka cabik-cabik bendera kesarjanaan yang bertahun-tahun dibersihkan dan dimegahkan di Perguruan tinggi.

Tekad Putra asli daerah Aceh ini ternyata benar, bendera sederhana yang ia tancapkan buktinya diterima masyarakat, sampai akhirnya ia terpilih menjadi Kepala Desa sekaligus menjadi santri Pondok Pesantren Pabelan di Magelang Jawa Tengah. Mukhtar Abbas nama kepala Desa itu, yang disamping banyak membaca buku agama, ia juga hobi berpuisi dan membaca buku-buku pembebasan. Sampai suatu hari di sebuah pertemuan secara spontan dan komedian lahirlah sebait sajak diatas dari mulutnya.

Waktu itu, penafsiranku atas sajak tersebut sangat sederhana; Pertama, sajak ini sebagai protes seorang Putra daerah atas modernisasi yang terjadi di daerahnya sendiri dan cederung mengkikis budaya lokal, sehingga identitas “serambi mekkah” menjadi tinggal “serambi”. Kedua, sebagai sindiran kepada pemerintah yang tidak pernah beres dalam menangani gejolak Aceh, sampai akhirnya “serambi” sendiri berubah menjai “seram”.

Sudah delapan belas tahun. Artiya jauh sebelum badai tsunami melanda Aceh dan Sumatra utara, bahkan jauh sebelum badai reformasi melanda Pemerintahan Orde Baru, bait sajak ini masih tercatat lengkap dalam memori pikiranku, hapal di luar kepala, karena diam-diam aku mengaguminya. Namun selama itu pula kuabaikan ia, kuanggap sajak itu telah menjadi kepingan fosil, terkubur bersama masa silam.

Dua Puluh Enam Desember, ketika tragedi tsunami terjadi, ketika samudra berunjuk rasa, ketika banjir datang tanpa hujan, ketika orang-orang teriak dan berlari tunggang langgang, sajak itu hadir kembali dengan perkasa, menjelma dari masa silam, gentanyagan bagai arwah penasaran. Tanpa permisi Ia menggedor dan mendobrak pintu ruang kerjaku, masuk dan menghampiri computer, lalu memainkan keybordnya. Seakan ingin menunjukkan bahwa ia masih eksis dan kontektual, ia butuh pengakuan, butuh dimanusiakan.
Sambil tersengal-sengal sajak itu berbisik di telingaku “Lihatlah Aceh sudah sampai di ujung sajak. Ayo , tulislah !”.

Aku tak bisa menulis apapun tentang kejadian Aceh, tentang gempa dan badai tsunami, tentang anak-anak yang menjerit tanpa bapak disampingnya, tentang para istri tanpa suami yang berlari pontang-panting dan hilang entah kemana, tentang mayat-mayat tersangkut di dinding yang runtuh, tergeletak di tanah rencong tanpa darah tertumpah. Mayat yang makin lama makin membusuk dengan bagian tubuhnya terpisah dan terkelupas ketika dievakuasi. Keterbatasan kosakataku tak bisa menggambarkan kepanikan saudaraku di sana. Jadi aku tak bisa menulis apapun, termasuk tentang tumpah ruah air mata dan bela sungkawa yang mengalir dari penjuru negri.

Namum sajak itu kembali berharap, ia tarik jari tanganku, ia arahkan pada setiap hurup di computer :
“ Ayo tolonglah kawan, Tulis ! Aceh sudah berada di ujung sajak”.
“Tidak bisa. Aku bilang tidak bisa. Saat ini aku hanya bisa membaca dan mencerna berita. Sudahlah….Jangan ganggu! Aku sedang meng-amini do’a-do’a para tokoh agama untuk saudara-saudara yang tertimpa musibah. Aku sedang kagum pada empati saudaraku di negri ini, aku bangga dengan bangkitnya budaya tolong menolong tanpa meyalahkan siapapun, tanpa melihat agama dan suku apapun. Aku sedang mensyukuri konsiliasi nasional yang telah lama kurindukan. Lihatlah bantuan mengalir terus sampai tak bisa tertampung. Lihatlah rakyat ini mendadak sholeh dan baik hati. Bencana ini luar biasa, ia mampu menyadarkan jutaan rakyat Indonesia yang selama ini tidak bisa disadarkan oleh sekedar pidato dan tulisan. Aku berharap seperti Herosima dan Nagasaki yang kehancurannya justru menjadi awal kebangkitan”.
“Tulislah kawan, Please, Aceh sudah berada di ujung sajak”.
“Tidak. Tidak bisa. Lagi pula bagaimana mungkin aku percaya pada sajak sepertimu. Kau bilang serambi makkah telah hilang dari tanah Aceh. Aku bilang tidak! Tidak hilang, ia sedang mengembara, mengetuk hati semua orang yang selama ini terus bertengkar”

Tanpa diduga, sajak itu tiba-tiba marah. Menggeram. Suaranya berubah seperti peserta uka-uka yang kesurupan
“Hem…Tulislah! jangan banyak omong! Aku tahu sebenarnya apa yang ada di kepalamu”.
“Ah jangan sok tahu, aku sedang tidak mood untuk menulis” kataku sambil santai menghisap rokok.
“Tulislah”
“Tak bisa”
“Tulislah”

Sajak itu terus memaksaku, semakin marah, semakin geram. Ia hempaskan setiap benda, kertas-kertas beterbangan, buku-buku terlempar, meja dan lemari terguncang dahsyat, seperti ada gempa mendadak. Hampir saja ia menghancurkan komputerku, namun aku berhasil mencegahnya. Ku matikan rokokokku yang masih panjang. Aku mendadak panik, tapi masih sempat bertanya;
“Engkau bukan sajak! Siapa kau sebenarnya?”
Masih dengan suaranya yang menggeram, matanya merah, jalannya sempoyongan seperti yang sedang mabuk berat, ia berteriak sekeras halilintar; “Hem….Semula aku sajak, tapi kini akulah badai. Akulah samudra yang bertahun tahun menahan nafas. Akulah amarah semesta” .

Karena kaget dan semakin panik, bicaraku tiba-tiba gagap
“ ya….ya.. sa...sabar…Namamu siapa?”.
“Hem….Tsunami, tsunami! “
“Tsu...nami?”
“Ya !Dalam hitungan detik aku bisa saja melumatkan negri ini termasuk kamu dan anak istrimu”

Mendengar ancaman itu, aku gemetar ketakutan, apalagi ketika ia mengangkat ujung jarinya yang tiba-tiba membesar seperti jari raksasa dalam film kartun.
“Ayo kuhitung sampai tiga….”
Panas dingin mulai menyerang tubuhku. Karena siapa yang tidak takut berpisah dengan anak istri dalam kondisi yang mengenaskan atau kondisi yang tidak tentu, siapa yang hatinya tetap tegar melihat saudaranya timbul tenggelam di deras air, di amuk gelombang, sementara ia tak berdaya menolongnya. Aku bukan Ibrahim yang tetap tegar meninggalkan Hajar dan Ismail, istri dan anaknya di sebuah lembah yang tak ada manusia, buah-buahan dan juga air. Aku bukan seorang Ismail yang mampu berserah penuh kepada Tuhannya walau nyawa dipertaruhkan di ujung pedang Ibrahim ayahnya sendiri.

Kita memang sering kali panik mendengar ancaman sebohong apapun, pabila ancaman itu berkaitan dengan persoalan hidup dan mati. Kita tidak pernah tenang dengan sebuah ancaman bom umpamnya, walau yang meletus ternyata hanya sebuah mercon mainan anak-anak.

Kulihat anak istriku. Mereka sedang lelap tidur. Tidak sepertiku, mungkin mereka sedang mimpi indah, jalan-jalan di sebuah mall sambil membeli mainan dan baju baru “Alhamdulillah mereka tidak apa-apa” gumamku.

“Hem…..satu….”
Oh, dia mulai menghitung. Mengancam dan memaksaku menulis. Aku semakin panik, semakin tidak tahu harus berbuat apa.
“Dua………”
“Tunggu…tunggu….” Aku berusaha menghentikan hitungannya.
“Tig…..”
“Stop ! aku mau menulis” Sambil tergesa aku coba gerakkan jemariku. Entah ide dari mana tiba-tiba keluar huruf-huruf yang merangkai kata “S E A N D A I N Y A”

Spontan sajak yang menjelma badai tadi terbahak dan menghentikan amuknya. Aneh, buku-buku tertata kembali, kertas-kertas tidak lagi berserakan, benda-benda berhenti berguncang.
“Ha..ha…ha…Awal kalimat yang baik, kawan. Ya, pakailah kalimat “seandainya”. Katanya.

Seperti sang guru ia menuntunku menulis, dan entah dengan energi apa ia transfer seluruh “seandainya” yang ada di pikirannya ke ujung jemariku.

Seandainya dengan teknologi dan ilmu pengetahuan manusia, pemerintah melakukan peringatan dini, tanpa berfikir resiko kerugian bisnis pariwisata, mungkin korban dapat diminimalisir. Penduduk dapat ditampung dulu di tempat yang lebih aman, harta benda berharga bisa diselamatkan. Seperti pengumuman yang dilakukan Nuh berabad-abad silam pada umatnya.

“Ya Bagus, bagus. Ternyata kau bisa juga menulis. Teruskan, teruskan…”

Seandainya bencana terjadi ketika masa kampanye calon presiden berlangsung, tentu tidak hanya presiden terpilih yang datang menjenguk Aceh, masih ada beberapa pasang calon presiden lagi yang akan mengirimkan kado bela-sungkawa, dan jumlah bantuan bisa lebih melimpah. Seandainya pesawat perang negri ini digunakan untuk menghantarkan bantuan ke tempat yang tidak terjangkau oleh kendaraan darat, tentu tidak ada penumpukkan bantuan di posko-posko, dan kelaparan pasca tsunami segera tertanggulangi.

Aku berhenti. Karena tidak tahu harus menulis apa lagi. Kemudian sajak itu berbisik kembali sambil memandu jari-jariku:
“Bilang saja, kenapa hal itu tidak dilakukan?” –Sajak itu menuntunku bertanya.
“Apakah kita tidak memiliki peralatan semacam itu, ataukah tentara kita diam-diam berdecak kagum: Wah, Gila juga itu tentara GAM, punya Bom sedahsyat itu. Melebihi kedahsyatan bom WTC”

Ide-ide konyol sajak itu terus mengalir, terus mendikte tanganku dengan awal kalimat “seandainya”, semakin kacau, semakin gila, semakin tidak sesuai dengan etika dan kaidah penulisan. Maka sekuat tenaga aku berhenti menulis. Aku protes ia dengan sisa energi,
“Sudahlah, cukup. Aku tidak mungkin menulisnya”
“Teruslah kawan, Aceh sudah berada di ujung sajak”. Katanya masih dengan kalimat itu itu juga.
“Tidak bisa. Sekarang masih dalam situasi berkabung nasional. Tidak mungkin aku hancurkan semangat persaudaraan yang baru saja terjalin. Tidak mungkin aku berandai-andai melulu, karena itu tidak akan menjadi kado cinta buat saudaraku”

“Kado cinta? Ha ha ha mereka tidak butuh romantisme bunga-bunga, kawan. Mereka butuh kejujuran seperti sebait sajak. Ayo tulislah!”

“Sudahlah….sudah. Aku tidak mungkin menulis ini. Engkau sungguh keterlaluan; disaat orang membuang jauh-jauh rasa curiga, engkau malah menyuruhku untuk mencurigai pemungutan sumbangan peduli Aceh. Enyahlah kau!”

Tapi sajak itu tak mau pergi. Ia malah bernafsu untuk menyetubuhiku. Lalu kami bertengkar, adu mulut, adu fisik, saling dorong, saling banting, sampai akhirnya aku terkulai lemas di sudut ruang.

Dengan bebasnya ia mainkan keybord komputerku, tulisanpun mengalir dengan kata-kata prontal dan mengerikan. Tidak mungkin itu tulisanku. Tidak mungkin.


Bandung, 2005

Minggu, 27 Juli 2008

muhasabah dua

Kuucap terima kasih untuk Fauny dan Cecep, atas komentar-komentarnya yang membangun. Komentar itu semakin memperdalam kesadaranku akan ketertinggalanku dalam mengisi hidup. Cep, Mina gubahanmu juga amat menyentuh dan menyentil. Sejak dahulu aku suka puisi-puisimu juga Zumroti. Eh, btw, aku terus menunggu kehadiran Mas Ramli, Mas Nurkholis, Mas Ilham, dkk di blog ini.

Sambil menunggu yang lain, nih aku kutipkan sebuah nyanyian ba'da shalat yang suka disenandungkan seorang Muslim zaman Khalifah Umar:

kala aku menyapa hati ini
ia tak sudi sama sekali
aku tertunduk lesu
kudapati ia selalu berpaling dariku
aku galau resah gundah
wahai pendamping yang buruk
mengapa gerangan kau terlena
umurku berlalu hampa makna
terlena dalam senda gurau
usia mudaku tlah berlalu
sebelum kugapai asaku
tak kuharap setelahnya selain kefanaan
uban ini menghambat tuntutanku
celakalah jiwa ini
sulit kulihat sisi baiknya
tidak pula sopan santunnya
wahai jiwa
andai engkau tiada
tiada pula hawa nafsu
wahai jiwa
selamatkan dirimu
takutlah pada Tuhanmu

Nyayian ini terdengar bagai ungkapan nafs lawwamah ya. Tapi, kupikir ia juga bisa menumbuhkan gairah hidup yang bermutu. Semoga.

Regards
Dindin

Jumat, 25 Juli 2008

Mina

MINA



Bahkan setelah anak-anak kita lahir

Kau tetap titipkan rembulan di mataku



Anak-anak mulai belajar mengeja dunia

Memunguti fosil-fosil

Karena sejarah yang ada sangat sukar di baca

Luntur oleh darah dan air mata



Kita terus saja telusuri mata angin

Yang selalu bermuara entah di cita-cita siapa

Entah di keinginan siapa

Membosankan

Memang

Namun kesetiaan telah tumbuh dewasa disini

Karena kesetiaan bukanlah secangkir kopi

Yang biasa disuguhkan seorang istri di pagi hari

Kesetiaan adalah cahaya ruhani yang kita ciptakan bersama


Cecep Suheli

Kamis, 24 Juli 2008

Makna Kumis


Lagi duduk santai di depan sebuah perpustakaan, di Canberra, tiba-tiba seorang bule menghampiriku. "Anda Emha Ainun Najib ya?" sapanya penuh rasa hormat. Sesaat aku terperanjat. Sekelebatan muncul pula rasaku tersanjung. "Wow, aku identik dengan Emha?" tanyaku dalam benak. Belum sirna rasa kaget, sepontan aku menjawab: "Bukan. Aku hanya pengagumnya. Seperti anda juga." Aku mencoba berempati. Ia tampak masih belum percaya atas bantahanku. Mencoba mendesak, ia lalu menjelaskan Emha yang iamaksud. Aku yakinkan dia bahwa aku juga kenal Emha. Kuulangi aku pengagumnya. Kuyakinkan lagi Emha yang iamaksud itu bukan aku.

Meski dugaannya meleset, si bule ini tidak segera beringsut. Ia tetap ngobrol denganku. Obrolan empat mata kemudian berlanjut tentang serba-serbi budaya Indonesia. Ternyata memang ia seorang student kebudayaan Indonesia yang ke depan bercita-cita menjadi seorang indonesianist.

Hai, kawan-kawan, tolong periksa gambarku ini. Memangnya apanya sih dari wajahku ini yang identik dengan Emha? Dagu, pipi, jidat, mata, atau hidung peseknya? Rambut gondrong, jenggot, atau kumisnya? Bila bicara kumis, apakah ada gunanya untuk memahami "instruksi" Bapak kita, Pak Kyai Hamam, kepada kita saat kelas enam, untuk mencukur kumis? Ingat nggak tahun 1986? Kala itu, aku bingung memahami perintah "nyeleneh" dari kyai yang sangat kuhormati ini. Santri kok diperintah untuk mencukur kumis. Aku juga pernah berusaha mengaitkan kasusku di Canberra tadi dengan perintah kyai ini. Apa memang ada hikmah rahasia ya?

Best.
Dindin
Bandung

Selasa, 22 Juli 2008

ayah-bunda

SEJENAK KITA MERENUNG...
Meringkuk aku dikehangatan cinta bunda, dalam hitungan bulan tak berbilang..
Sedang ia dirundung payah tanpa kesah……..

Berayun aku sepanjang mata terjaga, dalam dekap hangat bunda sambil berdendang….
Sementara ia diliput penat tiada kepalang….

Ketika aku dipeluk mimpi dalam selimut malam, air mata bunda tumpah hingga dipenghujung malam sembari do’a-do’a terpanjat…
Dalam munajat panjang tak berujung, ada namaku tak putus disebut…

Ketika kunikmati canda,
Ayah bermandi peluh, raganya aus sarat beban menggelayut…
Uzur dimakan waktu dan kehidupan….demi aku selaksa harap tercurah…

Kini derap-derap kakiku makin kokoh dan kuat,
Sedang ayah dan bunda kian lemah dinanti senja…

Bunda,
Ingin bisa kuhiasi senjamu dengan bulan bulat dan berjuta bintang,
Agar malammu bilamana tiba tak jadi temaram.

Ayah,
Ingin kulukiskan untukmu guratan indah dengan jemariku yang lentur karena kau bimbing aku dengan cinta dan kehangatan.

Sedalam laut dijajaki, tak jua dasar cinta ayah bunda ditemui,
Begitu dalam kasihmu tanpa ujung.

Sejuta kata kuhadirkan tuk menuangkan cintamu, tak akan mampu kalimat melukiskan
Laksa cintamu…..

Dan aku kehabisan kata,
Tinggal jalinan do’a tak lepas terajut.
Dan aku kan menemani senjamu dengan baktiku…
(Tulisan ini mengalir tanpa bisa kubendung, saat aku sendiri dimalam sepi ditemani bulan bulat merenungi rentetan lembar kehidupan yang kulewati. Betapa banyak hal yang belum bisa kulakukan untuk kedua orang tuaku yang telah mewarnai banyak goresan indah di kanvas kehidupanku...
Aku tersadar, sudah jauh jalan kulalui, beribu mil jarak kujajaki, namun belum banyak waktuku kupersembahkan menemani hari-hari senjamu....
Ya Allah...andai aku boleh meminta, beri cahaya bulan dan hiasi beribu bintang dimalam milik keduanya...dengan bulan bulatmu nan penuh rahmat dan bintangmu yang laksa karunia dan nikmat.
Semoga segala penjuru pintu surgamu kau buka lebar untuk mereka.
Rabighfirlii waliwaalidaiyya warhamhumaa kamaa rabbayaanii saghiiraa.amin
Salam
Z.Trihastuti

Senin, 21 Juli 2008

Fauny menyambut..

*)Zum,
Bener Zum, di SAHARA, Dindin sudah mengingatkan kita betapa kita ternyata sudah tueeee! Kalau saya, sebenanrnya udah sadar "merasa tua" tapi gak sadar-sadar juga. Sedih rasanya. Ah,setua ini belum bisa apa-apa. Kadang merasa frustasi: apa sih yang dikerjakan dalam hidup ini, tiba-tiba saja kita sudah seperti pohon yang siap me-layu. Pingin rasanya dilahirkan kembali, mengulang hidup ini dari awal lagi.
Trims Dindin.

FAUNY HIDAYAT
Lembaga Survei Indonesia (LSI),
Wisma Tugu Wahidhasyim, Jl Wahidhasyim 100, Menteng, Jakpus.
Telp.+62-21 3156373, Fax +62-21 3156473
HP. 0852 805 44402, 02193003024
Website: www.lsi.or.id
Email: faunyhidayat@yahoo.co.id, faunyhidayat@gmail.com

Artist

Manusia adalah makhluk terindah. Ia tak lain kecuali ciptaan indah kreasi Sang Mahaindah, Allah SWT. Alquran mengabarkan, manusia dicipta dengan bentuk-rupa paling indah (ahsan taqwim). Makhluk indah ini secara naluriah menyukai keindahan. Ini amat mudah dipahami, karena Sang Penciptanya pun menyukai keindahan.
Kesenian, dalam segala jenis dan macamnya, adalah perwujudan keindahan. Keindahan itu sendiri, sebagai rupa dasar manusia, sebagai kesukaan Sang Khaliq, mewujud dan menyeruak dalam ragam kesenian.
Tapi, ada pertanyaan besar. Mengapa ada sejumlah oknum seniman yang tidak menunjukkan keindahannya sebagai manusia? Mengapa sejumlah pengusung kesenian berpola-hidup dan bertingkah-laku secara menyimpang dari kehendak Dzat sumber keindahan? Bukankah, dengan mengumbar aurat, berdagang syahwat, berfoto (maaf) telanjang bulat, bergaul bejat, boro-boro ingat shalat, mereka sedang keluar dari nilai-nilai keindahan manusia menuju "nilai-nilai" ketidakindahan hewan? "Kenapa eh kenapa," kata Bung Rhoma Irama.
Mestinya, bila berjalan secara sehat, para seniman (artist) merupakan manusia yang paling menghayati hakikat keindahan manusia. Mestinya, mereka merupakan orang-orang yang paling depan menampakkan berbagai keindahan di muka bumi ini. Sejatinya, mereka merupakan orang-orang yang paling dekat dengan Allah, Dzat Yang Mahaluhur, Mahaindah.


Dindin S

Rabu, 16 Juli 2008

Usia

Kuperhatikan baik-baik gambarku. Lebih dekat lagi. Lebih detil lagi. Lebih teliti lagi. Lebih tajam. Lebih seksama. Lebih lama. Simpulan segera menyembul: aku tak muda lagi.
Ya, benar. Aku tersadar. Kuakui aku sudah tua. Usia kepala empat. Usia yang mestinya sudah mencapai kematangan. Dalam tradisi nubuwwah, kepala empat adalah usia kerasulan. Isyarat kedewasaan. Tanda kesepuhan. Ayat kesempurnaan spiritualitas, sejatinya.
Kuraba dada. Kuusap muka. Kutatap tanah. Kutertunduk malu. Pada usia kepala empat, aku masih merasa sok muda. Bahkan terkadang merasa remaja. Belum bisa bertindak dewasa. Masih suka kekanak-kanakan.
Sulit kusadari aku tak muda lagi. Padahal, isyarat ketuaan, dalam badan, sudah menggejala. Dahulu aku dekat membaca jauh buang air kecil. Kini aku jauh membaca, dekat buang air. Dahulu keras menunggu, kini kumenunggu keras (Huss...!). Gerakanku tak lagi gesit. Ingatanku tak lagi kuat. Pandangan tak lagi tajam, tapi tatapan masih liar. Pendengaran tak lagi peka, tapi masih enggan mendengar peringatan zaman.
Tua, meski belum uzur. Aku seharusnya merasa sudah tua, agar segera tanggalkan pakaian urakan dan tinggalkan hal-hal tak bermakna. Pada saat bersamaan, aku harus tetap merasa muda. Muda, untuk tetap giat berkarya.
Ya Allah Tuhanku, karuniakanlah kebermaknaan dan limpahkanlah keberkahan atas pendengaran, penglihatan, dan segenap potensi jasmaniahku, juga serba kekuatan ruhaniahku. Bagilah aku rasa takut dan takwa kepada-Mu. Wa ij'al al-hayah ziyadah fi kull khayr wa ij'al al-maut rahah min kull syarr. Amin ya Rabb al-'alamin.

Bandung
Dindin

Selasa, 15 Juli 2008

"Taman Rindang" di ruang hati



Kemarau, kering, gersang dan panas adalah sebuah fenomena alam yang siklusnya akan selalu datang pada setiap masa.
Betapa manusia banyak direpotkan oleh datangnya musim itu. Akibat buruk yang ditimbulkanpun membuat manusia kalang kabut menanggungnya. Sumber-sumber mata air mengering, tumbuh-tumbuhan panas meranggas, tanah tempat berpijak pecah merekah. Tangis pilu petani menyayat hati, panen yang lama dinanti tak jua bisa dinikmati.
Oleh karenanya, seiring datangnya siklus musim, membuat manusia dengan cerdas mengantisipasi bilamana saat musim tertentu tiba. Bila datang musim hujan, padi ditanam melimpah, lumbung-lumbung padi penuh terisi. Air ditampung dengan segala daya upaya agar tak sampai dahaga mendera.
Ironinya, ada satu fenomena yang sering luput kita cermati, yaitu kemarau dan tandus pada ‘taman hati’. Padahal akibat yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat. Tandusnya hati tentu akan melemahkan akar-akar kejujuran, menggugurkan helai demi helai daun-daun keikhlasan dan melayukan bunga-bunga kesabaran dan bahkan dapat mematikan rasa ‘khauf’ pada Illahi.
Panas dan keringnya ‘taman hati’ dengan mudah menyulut api ujub, riya dan takabur. Kobarannya akan mudah merembet dan melalap segala amalan yang ada.
Hati yang mengalami kemarau tentu akan menjadi tandus dari rasa cinta (yang sejati tentu hanya miliki Illahi).
Gersangnya ‘taman hati’ tak pula cepat dicari cara untuk merindangkan kembali, sebab kita sering sibuk mengamati rumput-rumput kering yang ada ditaman tetangga. Dan sebatas menikmati indanya taman rindang milik orang lain. “taman hati” yang kita miliki sering tak rapi terawat, padahal ia sangat butuh sentuhan lembut tangan pemiliknya. Ia menunggu rajin disiram dengan air keimanan, dan dipupuk dengan cinta kasih pada sesama.Dan terus ditanami dengan tunas-tunas kebaikan. Dan sebaik-baik penjaga dan perawat 'taman hati' adalah masing-masing diri dengan pertolongan Allah tentunya.

Ya allah..

Bila 'taman hati'ku kering, beri kesempatan aku merawatnya kembali..

Ampuni daku yang sering lalai menyiangi rumput-rumput liar kemalasan dan kesombongan pengganggu bagi kesuburan pohon-pohon iman ditaman hatiku.

Ya Rabb ya Rahman...

Pemilik seluruh taman, andai aku boleh memiliki taman-Mu,

Izinkan taman Firdaus ada di 'taman hati' ku...


"Hidup adalah sebuah kenyataan, dan mati adalah satu-satunya jalan pulang, maka iman dan taqwa adalah pilihan"


al-faqiir

Zumroti Trihastuti

Minggu, 13 Juli 2008

Dakwah bukan Mewah

Mbak Zumroti benar adanya. Dakwah, dalam segala bentuknya, merupakan kewajiban setiap Muslim. Penggede maupun wong cilik sama-sama mengemban tugas suci dakwah dan, karenanya, berhak untuk mendapat pahala dakwah. Sesederhana apapun amal dakwah, pasti tercatat apik pahalanya di sisi-Nya. Mengingat dakwah yang fardhu 'ain dan melihat pahala dakwah yang menggiurkan, benar-benar kita tidak punya alasan untuk tidak berdakwah.

Sejalan dengan itu, dakwah sangat mungkin dilakukan oleh siapapun. Setiap Muslim berpeluang untuk melaksanakan praktik dakwah. Tanpa tapi, tanpa kecuali. Sembarang Muslim dapat melakukan sembarang bentuk dakwah pada sembarang waktu. Ini semua sesuai belaka dengan kapasitasnya, kemampuannya, dan kesempatannya. Ini semua selaras saja dengan profesinya, lingkungan kehidupan dan jenis penghidupannya. Tugas dan peluang dakwah menyatu dalam warna dana arena kehidupan masing-masing individu Muslim.

Alhasil, dakwah bukan barang mewah. Ia bukan melulu tugas mereka yang disebut orang sebagai aktifis harakah. Ia bukan hanya kewajiban para kyai, ulama, dan tokoh-tokoh pembesar dakwah. Ia bukan monopoli orang-orang yang kesehariannya bergiat di majelis taklim atau pusat dakwah. Bukan pula dakwah merupakan lahan eksklusif para mahasiswa dan sarjana dakwah di berbagai fakultas dakwah. Semua kita adalah pejuang dakwah yang memikul kewajiban dakwah dan berhak untuk merengkuh pahala dakwah, pahala dunia dan pahala akhirat.

Apa benar demikian? Wa al-Lah a'lam bi al-shawab.

Regards.
Dindin

Minggu, 06 Juli 2008

Berikan apa yang kau punya....

Pada fitrahnya, semua yang bernama manusia, oleh Allah diberi suatu amanat yaitu melaksanakan kewajiban. Apa itu ? solat kah.. puasa kah...(benar ! dan mutlak memang harus dilaksanakan) tapi ketika dua hal yang urgen itu telah dilaksanakan, apakah selesai tugas manusia dalam memenuhi kewajibannya ?

Ada satu hal yang kita lalaikan, dalam mengemban amanat sebagai seorang 'kholifah fil ardh' dan ini rasanya tidak ada pengecualian (artinya berlaku pada siapa saja, tanpa tapi !) yaitu dakwah.

Apapun alasan kita, tidak akan menggugurkan kewajiban kita untuk melaksanakan kewajiban itu. Ketika seseorang bukan menjadi ahli agama, dia berkilah saya kan seorang ekonom, saya pebisnis, saya pengusaha, atau seribu alasan dicari untuk lari dari kewajiban itu...maka perlu kita pertanyakan kembali..seberapa banyak waktu kita luangkan untuk mengejar dunia, ilmu yang bersumber pada ideologi kapitalis kita kuras sepanjang usia kita, kita relakan berjam-jam waktu kita untuk memenuhi hobi kita, kita punya waktu banyak untuk menonton bola, sinetron, dsb.tapi mencari sumber ilmu yang akan kita pakai sebagai jalan dakwah sering kita tidak memilikinya, sehingga ketika kita diminta harus berdakwah, kita sering berkilah, aku bukan ahlinya, tak ada waktu, tidak berkompeten , dan semacamnya.

Ayolah kawan... sekarang harus kita mulai, tidak perlu kita menunggu waktu, tidak usah mencari kesempatan, kita bisa digilas waktu, atau kesempatan itu tidak akan pernah datang sama sekali, karena waktu dan kesempatan bukanlah kita penentunya, yang ada mari kita gunakan !

Media ini insyaallah bisa menjadi solusi kita dalam berdakwah, mari kita manfaatkan, semakin banyak yang mendapatkan 'nilai' dari membuka sahara80, insyaallah ladang amal sedang kita gali, nanti suatu saat pada masanya kita akan menuai hasilnya.....


Salam


Zumroti Trihastuti