Jumat, 13 Februari 2009

Hai.......
Pada kemana semua nih ?
Aku koq dibiarkan sendiri, kesepian, bahkan nyaris terlantar tanpa pernah disentuh.
Kunanti datangnya musim berganti, barangkali hati tergerak menyapa dan meluangkan sedikit waktu tuk diriku....tapi hingga musim baru datang mengganti musim yang lewat, aku tetap dengan kesendirianku......
Waktu, kesempatan, kesediaan, memang tak bisa dengan paksa diminta, tapi andai boleh aku mengharap, berikan sedikit untukku.....
Aku tidak berharap banyak, segores kata tak apalah, mungkin itu cukup buatku....
Barangkali aku memang bagian tak penting, karena kesibukan dan aktifitas kawan-kawan tentu sudah cukup banyak menyita seluruh waktu yang ada. tapi walau demikian setidaknya sekedar bersapa dan menorehkan seuntai kata, rasanya cukuplah sudah, itu artinya akan membuat hati menjadi penuh rasa cinta
Kawan ......
Bagaimana hati kita akan saling bertaut jika kita tidak saling menyapa ? ayolah kawan berikan sedikit waktu untukku, goreskan sedikit kata, karena itu pasti akan berarti buatku.....

sweet regards

Sahara

Selasa, 30 Desember 2008

Buku Spektakuler di penghujung tahun

Segala kebaikan milik Allah Swt, yang telah membimbing dan menuntun kita menjadi insan-insan yang tengah berjuang menuju kebaikan...Termasuk diantaranya adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang tua yang diamanati 'buah hati' untuk dibimbing, dididik, menuju jalan Illahi, karena setiap goresan tinta yang tersurat pada lembaran buku amal kita, dalam kapasitas apapun kita, (terutama sebagai orang tua) tentu akan ada pertanggung jawaban dihadapan Allah kelak. Alhamdulillah, kawan kita K.H.Dindin Solahudin, Lewat buku yang baru saja diterbitkan dipenghujung tahun 2008 ini, akan bisa membantu kita dalam memperkaya kemampuan kita dengan jurus-jurus jitu, bijak, arif, dan cerdas yang tentu akan sangat bermanfaat, dalam kita mendidik anak-anak kita.
Oleh karenanya, buruan !!! cari dan dapatkan bukunya dengan judul :
La Tahzan for Parents

Penulis
K.H. Dindin Solahudin
Jumlah Halaman
244
Penerbit
Mizania (Mizan Group)
Harga
Rp 36 500.00
ISBN
978-602-8236-04-1


Selamat ya Din, semoga Allah terus menuntunmu dan memberi kemudahan untuk kamu terus berkarya.
Salam
Zumroti Trihastuti

Minggu, 14 Desember 2008

DO’A MASUK PARTAI
Oleh: Cecep Suhaeli

Lelaki itu bernama Hasan. Sudah seminggu ini ia berfikir keras untuk sebuah keputusan penting. Keputusan yang akan berpengaruh besar pada hidup dan aktifitasnya. Bagi kebanyakan orang langkah mengubah nasib seperti ini sebetulnya biasa-biasa saja, karena banyak orang yang telah melakukannya dan berhasil, tapi ada juga yang gagal dan kemudian stress. Dia sendiri secara pribadi merasa sudah bulat dan menyatakan setuju untuk maju. Hanya saja setelah kedua orang tuanya tiada, ada orang yang mesti dimintai do’a restunya setiap kali ia membuat keputusan penting. Yakni seorang kyai yang telah lama menjadi guru spiritualnya. Kyai ini luar biasa kharismatik dan sangat disegani terutama oleh masyarakat sekitarnya. Maka sebagai santrinya, kurang afdhol rasanya kalau mau melakukan sesuatu yang besar dan penting tanpa terlebih dahulu minta petunjuk dan do’a restu dari kyai ini. Seperti dulu ketika ia hendak memulai berumah tangga, atau seperti beberapa tahun silam ketika ia memutuskan untuk menjadi guru ngaji di negeri jiran Malaysia, ia tidak lupa minta pendapat dan restu kyai terlebih dahulu.Tapi untuk urusan yang satu ini, kenapa ia ragu menceritakannya pada kyai, padahal restu kyai merupakan gerbang akhir yang mau tidak mau harus dilewati apabila tidak ingin mendapat stempel ‘kwalat’. Dia ragu apakah kyai akan bangga dan merestui rencananya atau malah sebaliknya.“ah..nekad sajalah, apa boleh buat aku harus menemuinya” katanya dalam hati. Maka setelah berjamaah solat subuh ia menunggu kyai menyelesaikan wiridnya, dan begitu keluar dari masjid langsung saja ia menyusul ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah Kyai, ia mengetuk pintu sambil mengucap salam:“ Assalamu ‘alaikum”“Wa’alaikum salam .....Hem..... kamu toh San? Silahkan duduk! Ada apa? “ Seperti biasa kyai selalu bertanya lebih dulu“e..begini ustadz...e..saya....”Hasan tampak ragu untuk menyampaikannya, padahal sang kyai ini telah lama menganggapnya sebagai anak sendiri.“ngomong saja terus terang.... ada masalah apa? ribut sama istrimu?”
“Bu...bukan Ustazd.... eu...saya....”“Atau dengan mertuamu?”“He he...bukan”“Terus apa? Gak punya beras? Bilang saja ke ibu....sana di dapur”
Susah sekali hasan mengatakan maksudnya sampai akhirnya dengan gagap iya bicara “Bukan, ustadz.... saya ke sini mau mohon do’a restu dari ustazd....”“Memangnya mau kemana?” dengan seriusnya kiyai itu bertanya. Karena biasanya kalau santrinya ini sudah mohon do”a restu artinya ia mau mengembara keluar kota atau keluar negeri. “saya diajak oleh ketua dari salah satu partai....”“diajak kemana?” kiyai terus mendesak“diajak menjadi pengurus partai sekaligus calon anggota DPRD nomor satu dari partai itu di daerah pemilihan tempat saya tinggal”“Oo….Terus....?”“Saya sudah menyanggupi dan sedang mengurus beberapa persyaratan administrasinya, ustadz….. jadi saya mohon do’a restu dari ustadz”
Sejenak sang kyai terdiam seperti sedang berfikir, namun bagi Hasan sikap Kyai itu cukup membuat jantungnya berdegup kencang...ia semakin ragu untuk direstui. Hasan Nampak kurang percaya diri. “em...tapi kalau ustadz tidak berkenan atau ada nasehat buat saya....”

Mendengar kalimat pesimis dari santrinya, kyai langsung memotong:“masalahnya bukan berkenan atau tidak.... yang kamu inginkan dari saya itu kan DO’A RESTU, untuk Restu sih saya pasti merestui, tapi DO’A ? kenapa kamu tidak berdo’a sendiri?”Hasan tersenyum.lega rasanya ia telah berhasil menyampaikan maksudnya. Lebih lega lagi karena Ia merasa dapat lampu hijau. Buktinya kyai ini malah bercanda “ya ustadz.... setiap setelah sholat, saya senantiasa berdo’a. Tadi juga sehabis sholat subuh, saya berdo’a.”“Memang kamu tahu do’a masuk partai?”Seketika Hasan terdiam....tak mengira kalau kyai akan bertanya seperti itu. dia baru dengar ada do’a masuk partai “he.. belum ustadz.... maaf.... apa ada do’a masuk partai ustadz...”“Ya ada!! kamu ini gimana.....doa mau tidur, mau makan, mau perjalanan saja ada, apa lagi masuk partai”“Maaf ustadz...saya baru dengar. emm....do’anya bagaimana ustadz? kalau boleh, saya mau mencatatnya”“Ah..gak perlu dicatat, toh sebenarnya kamu sudah hafal. Cuma kamu kurang kreatif mengamalkannya. Coba kamu dengar! Ingat gak do’a ini”
Kemudian kyai membacakan sebuah do’a singkat yang sudah tidak asing lagi di telinga Hasan. Spontan Hasan kaget mendengarnya“Lho...ustadz......itu bukannya do’a mau ke kamar kecil? ya... itukan untuk masuk WC..!???”“Memang kenapa? apakah pisau dapur hanya untuk ngiris bawang dan sayur? apa tidak boleh dipakai motong tali, mangkas rumput, motong kertas, ngerik lumut di dinding.....heh? Apakah buku tulis hanya untuk menulis? apakah tidak boleh menjadi kipas angin, menjadi bantal, menjadi bungkus kacang...heh?”“I.. iya ustadz... tapi WC dengan Partai, apa hubungannya? nanti dikira melecehkan partai...”“Yang mengira seperti itu, orang yang tidak ngerti atau goblok seperti kamu. Ini sama sekali bukan pelecehan. Coba menurutmu apakah WC, kamar kecil, kamar mandi itu hina? apakah tidak penting bagi kehidupan? Kalau begitu kenapa WC dan kamar mandi itu justru menjadi prioritas petimbangan kamu ketika kamu milih rumah kontrakan...heh? ngerti gak?”“Iya ustadz...”“Begitupun PARTAI. Para investor asing ketika mau menanam saham di negeri kita, sama dengan kamu memilih rumah kontrakan. Keadaan partai-partai politik di sini menjadi bagian penting untuk mereka jadikan bahan pertimbangan. Mereka akan menunda investasinya apabila partai-partai dan para elitnya tidak beres”“Iya,.....maaf ustadz... do’a itu maksudnya gimana?”“Begini lho san.... Do’a itu mengajarkan kita untuk berlindung kepada-Nya agar terhindar dari segala macam kotoran. Nah WC itu ada yang bersih ada yang kotor. tapi sebersih-bersihnya WC ya tetap kotor kan? Percaya gak?”“emm..i..iya....percaya ustadz....”“Ya kalau gak percaya, coba saja kamu cari WC yang paling bersih, lalu kamu makan siang di situ. Mau gak?”
Hasan geleng-geleng kepala sambil tersenyum...sementara kyai melanjutkan pembicaraannya “Tapi ingat se-kotor-kotornya WC tetap diperlukan dalam rumah kita. Jadi bersih atau Kotor sebuah WC, agama mengajarkan agar kita berdo’a dulu sebelum memasukinya”“Iya....ustadz...”“Nah, begitupun partai, ada yang kotor ada yang bersih. Tapi sebersih-bersihnya Partai ya tetap kotor dan se-kotor-kotornya Partai tetap diperlukan dalam Negara kita ini. Setidaknya menurut konstitusi. Keduanya juga sama-sama tempat membuang hajat dan tempat membersihkan raga kita setelah membuang hajat. WC tempat buang hajat, Partai juga tempat membuang hajat politik. Jadi saya meng-kiyaskan Partai dengan WC itu, ya seperti itu. Terlepas kamu menilai bersih atau kotor partaimu itu, pokoknya kamu harus berdo’a dulu sebelum memasukinya. Kamu berkewajiban juga untuk menjaga kebersihannya”
“Iya ustadz....??”“ Nah….Agar WC selalu bersih, mutlak di dalamnya harus tersedia air. Karena air merupakan alat bersuci (thoharoh) yang paling utama. WC akan cepat kotor dan bau kalau air tidak tersedia di situ”“Iya ustadz”
“Lalu untuk menjaga kebersihan partai tentu hati dan akal sehat anggotanya harus tersedia di situ. Kalau tidak, Partai akan cepat kotor dan bau” Hasan hanya menyambutnya dengan iya dan iya, sejak beralih ke urusan WC Hasan memang mulai tegang lagi, ia semakin grogi. Lalu Hasan asal ceplos saja bertanya, maksudnya biar tidak kelihatan nerves “Untuk menghilangkan bau kan bisa pakai parfum....ustadz?”“ Wah, kamu jangan terjebak hanya menghilangkan BAU. Itu salah besar!! Kamu harus tahu bahwa BAU, kecoak, busuk, lalat, nyamuk, itu semua adalah utusan Tuhan untuk mengabarkan kepada manusia bahwa benda yang ada dihadapanmu itu sebenarnya KOTOR. Kenapa sang pemberi kabar penting itu justru kamu bunuh? Kita ini sering terbiasa menyelesikan masalah secara instan, selalu saja yang diselesaikan bukan akarnya. Pengemis, anak jalanan, pelacur, kaki lima diciduk dan ditertibkan hanya untuk tidak mengotori kota tanpa diselesaikan masalahnya. Baru-baru ini seorang pengusaha kaya yang terlanjur menikahi anak dibawah umur, malah disuruh mengembalikan kepada orang tuanya, tanpa dipertimbangkan status janda anak itu, masa depannya, respon sosialnya......e..maaf, saya sudah bicara jauh ya....”“Gak apa ustadz....itu juga pengetahuan penting buat saya. Lalu.. apa yang mesti saya lakukan, Ustadz?”Ya...setelah buang hajat, kamu harus cebok. Pakai air bersih. Bukan pakai parfum atau diodorant. Kalau pun pakai sabun bukan supaya wangi, tapi supaya lebih bersih”“Maaf....maksud saya di dalam Partai nanti, apa yang mesti saya lakukan? Ustadz...?”“Ah..kamu ini.... ya tetap jangan lupa ‘Cebok’ dan pakai air bersih bukan pakai parfum. Artinya pakai HATI dan AKAL SEHAT bukan pakai spanduk gombal dan pidato politik. Kamu lihat saat ini, opini public atau pandangan kebanyakan orang kepada partai begitu miring. Hal itu karena para elit partai sering lupa ‘cebok’ setelah membuang hajat politiknya, tidak pernah bersih-bersih. Sehingga aroma tak sedap di dalam partainya sering terbawa ke ranah public dan mengganggu serta mengotori aktifitas lain yang mestinya tidak harus berbau politik. Lihat saja...hukum berbau politik, ekonomi berbau politik, pendidikan berbau politik, lingkungan berbau politik, agama berbau politik,.....kacau kan?”“Iya ustadz....”“Apa lagi agama...dari mulai bulletin Jum’at, khutbah jum’at, spanduk romadhon dan hari raya, zakat, qurban, haji.....kalau semua beraroma politik, bagai mana ini... untung saja yang menilai bukan manusia....”“Ya... benar....ustadz..”“Bukan iya iya......Kamu sendiri masuk partai mau apa?“ euh…Insya allah saya mau berjuang untuk keadalian, kesejahteraan masyarakat, dan juga perkembangan agama, ustadz...”“Ya salah jalan dong...kenapa harus masuk partai. Orang masuk partai itu hanya punya dua tujuan; HARTA atau JABATAN. Kalau tujuannya seperti kamu, kenapa gak jadi DKM atau RT saja.....atau mengabdi di Pesantren“Maaf ustadz... bukankah ustadz bilang bahwa pisau dapur tidak harus berfungsi untuk ngiris bawang dan sayuran saja....”“O..gitu toh....??? ya syukurlah kalau kamu sudah ngerti”
Hasan yang duduknya sudah mulai berubah-rubah, ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10.30. Tidak terasa, cukup lama juga ia berbincang-bincang dengan Kyai. Sebenarnya ia sudah harus keluar dari rumah kyai karena beberapa persyaratan administrasi calon legeslatif harus diselesaikan hari ini. Tapi seperti juga sulit memulai, ia juga bingung mengakhiri. Nampaknya Kyai ini cukup memahami kegelisahan Hasan. Ia sangat mengerti bahasa tubuh santrinya, lalu kyai bertanya: “Besok kan terakhir pendaftaran ya....? kamu sudah siap ??”“Belum Ustadz....Em...maaf ustadz saya sekalian permisi saja, masih ada beberapa yang harus diselesaikan hari ini. terimakasih atas nasehat dan restunya”.“Ya sudah... hati-hati! Jangan Lupa do’a tadi..............”“Baik, Ustadz.... Assalamu’alaikum”“Wa’alaikum Wasalam”
Setelah pamitan, Hasan keluar dari ruang tamu kyai. Hatinya semakin berkecamuk, di satu sisi dia layak bahagia karena ambisinya direstui kyai, tapi di sisi lain, nasehat kyai sulit juga dilupakan. Bandung, 2008

Pertemuan IKPP Jabar

Panitia kecil IKPP Jabar telah rapat pada Jum'at 12 Des 2008 ybl. Berikut hasilnya:
  • Pertemuan IKPP Jabar tetap tanggal 25 Des 2008 jam 09.00-selesai bertempat di Pesantren Al-Ihsan, Cibiruhilir RT 01 RW 02 Cileunyi Bandung
  • Acara didesain relaks, akrab, setara, dan berisi
  • Isinya adalah soliditas dan solidaritas: soliditas IKPP Jabar sebagai sebuah komunitas dan solidaritas antaralumni yang koheren
  • Isinya adalah silaturrahmi dan rancangan kegiatan IKPP Jabar ke depan yang realistis, workable, dan menyentuh kepentingan segenap alumni dengan segala latar belakang dan semua lapisannya
  • Semua alumni asal Jabar sangat diharapkan sekaligus dihargai kehadirannya
  • Alumni non-Jabar juga welcome untuk hadir dan membantu memikirkan eksistensi IKPP Jabar. (Sejauh ini perwakilan dari Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Yogya sudah confirmed mau datang. Kami tunggu dan terima kasih sebelumnya.)
  • Setiap alumni yang berkenan akan hadir dimohon konfirmasinya. Segera. Ini menyangkut persediaan ruangan dan, tentu saja, konsumsi..he..he..
  • Untuk konfirmasi, hubungi Dindin (08112213849) atau Cecep Suheli 08156010784.
  • Terima kasih dan sampai jumpa di hari natal.

Cheers.

Dindin

Kamis, 11 Desember 2008

Ragam Cara Menjemput Maut

Aku ngert maut memang pasti datang. Maut sebagai sebuah mata rantai perjalanan hidup, setiap orang pasti melaluinya. Tak terkecuali aku. Bahkan, setiap makhluk bernyawa pasti mencicipinya. Ada yang lebih cepat lewat, ada pula yang belakangan. Cuma soal jatuh tempo, alias ajal.

Setiap orang, bahkan juga barang, menurut firman-Nya, punya ajalnya sendiri. Masing-masing sudah tertentu kapan jatuh tempo kematiannya. Ajal itu, bagi masing-masing, sudah diketuk palu. Ia tidak bisa diganggu gugat. Bagi ajal, tak berlaku usulan percepatan. Tidak pula penangguhan. Aku harus terus siaga menghadapinya sepanjang waktu. Aku harus siap menyambutnya setiap saat.

Lucunya, atau lebih tepat, celakanya, tidak selalu aku siaga. Tidak selalu aku siap. Banyak memang yang tetap bersiaga-diri menyadari maut. Banyak memang yang tak lalai dan tetap bersiap diri. Dan memang banyak yang sudah berada dalam kepasrahan penuh, sehingga siap menerima takdir maut kapanpun. Tetapi, tampaknya, perkara ajal maut ini, lebih banyak lagi orang yang lalai, tak siaga, dan tentunya tak siap. Ini terlihat jelas dari cara orang menjemput maut.

Beragam cara orang menjemput maut. Ada yang menjemputnya melalui jalur kepongahan. Sebagai misal, orang kebut-kebutan di jalan dengan besar-kepala ibarat jagoan. Salip sana salip sini. Senggol ini senggol itu. Tak peduli orang dongkol orang berang. Terus saja berkendara ugal-ugalan berniat unjuk kebolehan balapan. Ia tak lama 'braaak' menabrak dan tersungkur. Dengan amat cepat ia sampai "tujuan" alias maut. Ya, ia menjemput maut dengan cara kesombongan.

Pernah kabar tersiar, seorang dosen mati di pangkuan seorang wts. Jelas ini merupakan suatu cara menjemput maut melalui jalur perjinahan. Na'udzu billah. Ada juga melalui olahraga maut, tantangan ekstrem, perampokan, pertengkaran, tawuran, bahkan bunuh diri. (Fal'iyadzu billah dari itu semua.) Ini semua, dan cara-cara lain semisalnya, merupakan cara jemput maut yang terbilang ekstrem dan termasuk jalur cepat. Tidak banyak orang yang melaluinya. Dan tentu aku mudah saja menghindarinya.

Yang lebih berbahaya adalah cara jemput maut jalur lambat. Ini tidak ekstrem. Lebih banyak orang memilih jalur ini. Misalnya, orang membuang-buang usianya untuk kegiatan tak berguna. Bahkan sehari-hari sibuk dalam apa yang disebut Alquran sebagai la'ibun wa lahwun. Datanglah maut pada waktu dhuha saat mereka asik bermain-main lupa Tuhan. Datanglah maut tengah malam saat mereka terlelap tidur. Berhentilah berpikir bahwa dalam kasus semacam ini maut datang menjemput.

Hey! Ini bukan maut yang menjemput kita! Tapi, sebaliknya, kita yang menjemput maut. Inilah cara menjemput maut dengan kelalaian, kelupaan, dan kelengahan. Lalai tentang hidup. Lupa terhadap Tuhan. Lengah atas keselamatan diri. Justeru inilah cara menjemput maut yang banyak dipilih orang. Teruskanlah analogi ini pada beragam kemaksiatan dan kemunkaran. Saat bermaksiat, saat terlibat munkar, sesungguhnya aku sedang menjemput maut dengan kemaksiatan dan kemunkaran. Astagfirullah.

Tentu tak perlu disebut di sini bahwa ada juga yang menjemput maut dengan cara kebodohan semisal minuman keras seperti di Bolaang Mongondow tahun lalu dan Indramayu Ramadhan yang baru lalu. Tak perlu pula disinggung cara menjemput maut dengan narkoba. Ini tak perlu disebut karena memang sudah jelas-jelas merupakan cara menjemput maut yang super jahil.

Cukuplah di sini digarisbawahi bahwa sejatinya kita semua sedang menjemput maut. Baik sadar atau tidak. Orang menjemputnya dengan cara masing-masing. Kita musti menjemputnya dengan cara elegan. Berharap kita mati tersenyum. Amin.

Dindin
Bandung

Selasa, 25 November 2008



Ya ALLAH..........

Ya Allah,Ketika seseorang tersesat ditengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya dan para khalifah bingung menentukkan arah perjalanannya, mereka akan menyeru, YA ALLAH..
Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru, YA ALLAH....
Ketika musibah menimpa, bencana melanda dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa kan selalu berseru, YA ALLLAH ....
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang akan mendesah, YA ALLAH...Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan serasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru, YA ALLAH ....
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban kehidupan yang kita pikul, menyerulah, YA ALLAH...

SAHARA80


Minggu, 16 November 2008

Lajong

Lajong, sebuah kata yang populer saat di Al-Hamra. Seingat aku, Muhammad Dahlan lah yang memperkenalkan istilah itu. Aku sendiri nggak ngerti benar apa maknanya. Yang kutahu, kayaknya lajong berarti jalan-jalan ke "selatan." Pasti menarik deh bila Profesor Dahlan berkenan menjelaskannya secara detail. Ayo dong masuk ramaikan Sahara80. Ke mana aja ya Mas Dahlan, Mas Fauny, Mas Ramli, dan temen-temen lainnya? Mas Mukhlisin, Mbak yanti, dan Mbak Pura juga kami tunggu-tunggu kemunculannya. Kami rindu nih. Sahara menantimu juga.

Dindin
Bandung

Kamis, 13 November 2008

Gayung Bersambut

Siiiip. Bukan janji kosong bila, kala Launching Buku (8-9 Nop) yang baru lalu, Jularso, Muhdlor, Hasan dtt. berjanji akan segera masuk meramaikan blog Sahara80. Gebrakan mereka benar-benar memukau. Kisah Topi Bulis dan Madza Faqot telah membawa aku ke alam 80-an yang mengesankan. Kuyakin segera menyusul deh kontribusi berikutnya. Termasuk dari temen-temen lain. Matur nuwun ya.
Eh, kawan, masih punya foto-foto kenangan Mbelan 'kan. Menarik juga tuh bila foto Mang Darul, Ramli, Cecep, Jularso, Dahlan, aku, atau siapa saja yang lagi mengenakan topi bulis ditayangkan juga di blog ini. Pasti menarik dan bernilai kenangan khas. Atau pasti temen-temen punya sejumlah foto kenangan di rumah. Ayo dong sharing foto-fotonya buat temen-temen di blog ini.
Ngomong-ngomong, aku masih menunggu tayangan foto-foto kita saat Launching kemarin. Gimana Mbak Zum?

Thanks.
Dindin


TOPI BULIS BUNDAR
Oleh: Jularso Raju


Topi saya bundar/ bundar topi saya/ kalau tidak bundar,/bukan topi saya”.
Siapapun pasti hafal nyanyian ini, karena sudah menjadi semacam lagu wajib yang turun temurun. Kalau pun tiba-tiba kita mendengar nyanyian ini diteriakan oleh anak kita, tetap saja akan terdengar biasa, nyaris tidak bermakna apa-apa. Hal itu karena lagu ini nyata-nyata tidak pernah mati, tidak juga tenggelam dan tergeser oleh lagu-lagu pop dan dangdut masakini. Jadi tidak perlu dihidupkan lagi oleh fikiran dan otak kita.

Tapi ketika suatu hari saya menjemput anak saya di taman kanak-kanak tempat ia bermain dan belajar, saya mendengar anak-anak menyanyikan lagu itu, dan anehnya syair lagu itu membawa saya melayang ke belakang. Lagu ini justru telah menghidupkan sesuatu dalam fikiran saya, membuat saya teringat hal yang sudah lama hilang. Topi.... ya...topi. Entah kenapa secara spontan otakku memplesetkan “topi saya bundar” menjadi topi bulis bundar/ bundar topi bulis/ kalau tidak bundar/ bukan topi bulis.

Bulis memakai topi memang intruksi kyai setelah banyak santri putra yang memasuki komplek putri mengaku bulis setiap ketangkap basah oleh senter kyai. Dengan topi, setiap bulis memiliki ciri yang nampak dan gampang dibaca. Inilah identitas yang benar-benar berfungsi sebagai identitas. Walaupun identitas ini dapat juga dipinjam oleh yang bukan petugas bulis yang kebetulan malam itu ingin mencari angin di ranah kaum hawa.

Bulis secara bahasa (kalau tidak salah nih) artinya polisi, pengertian umumnya “ronda malam” yang bertugas menjaga keamanan lingkungan di malam hari. Sekalipun secara bahasa berarti “polisi”, tapi kyai tidak mengintruksikannya untuk menggunakan ciri-ciri militer. Tidak seperti seragam beberapa ormas yang selalu memilih pakaian loreng untuk identitasnya. Mungkin karena bagaimana pun, identititas akan kehilangan fungsi sebagai identitas apabila telah dijadikan identitas oleh banyak orang/kelompok.
Ngomong-ngomong tentang pakaian dan identitas, kyai juga pernah menyindir bagian Diesel dalam sebuah pidatonya. Hal itu karena bagian diesel yang berkostum pegawai bengkel dengan pakaian werpark yang kumal penuh oli itu telah memilih identitas yang terlalu pasaran. Mungkin tidak harus begitu.

Di tengah peradaban seperti ini, pakaian secara umum telah menjadi identitas atau ciri fisik manusia waras, tetapi beberapa mode dan corak pakaian telah menjadi identitas kelompok manusia/masyarakat tertentu. Hanya saja dalam perkembangannya terkadang tidak nyambung antara pakaian dengan kualitas yang ada di baliknya. Banyak yang rambut dan stelan bajunya seperti seniman, sementara potensi seninya NOL besar. Ada yang berkostum kiai tapi kelakuannya keluar dari bingkai kiai. Tidak sedikit yang berkostum ilmuwan namun otaknya Pentium satu. Mahfodhot bilang: “Libaasukum yukrimukum qoblal julus wa ‘ulumukum yukrimukum ba’adal julus”. Pakaian atau identitas itu hanya mampu membuat kamu terhormat sebelum kamu duduk, sedangkan yang membuat kamu terhormat selanjutnya adalah ilmu dan potensi diri. Jadi kalau dulu sering pinjam topi bulis, sekarang jangan coba-coba pinjam identitas. Bahuaya....

Kembali ke topi tadi, rasanya ada banyak cerita yang dapat kita rangkai, diawali TOPI BULIS, atau dengan kalimat sambung TOPI BULIS, atau diakhiri TOPI BULIS, atau sekedar menyinggung TOPI BULIS. Siapa yang lebih dulu cerita? Silahkan kirim email ke
zetty_has@yahoo.co.id .
Akhir kata, marilah nyanyikan lagu: topi bulis bundar/ bundar topi bulis/ kalau tidak bundar/ bukan topi bulis.
###